Novel Terbaru : Novel Dear ‘Kegagalan’

Posted on

Novelrw.com Novel Kegagalan Terbaru, Dear Kegagalan 2018/2019 dulu saya selalu menulis kata-kata berisi penguatan diri jika suatu saat saya melakukan kesalahan dan gagal, tetapi itu sudah berlalu sangat lama, dua tahun lalu seolah saya akan sangat kuat mengahadapi mu, “Jika gagal menyapa ku, tiap-tiap hari, ketahuilah seandanya saya ingin menyerah tidak segampang itu” saya mungkin akan menyarah bila gagal menjumpai ku tetapi tidak semudah itu selama saya masih hidup.

Itu kata-kata yang pernah saya tulis, bahkan saya membingkainya dan menempelnya tidak hanya di dindinding tetapi dihati ini. Jujur dulu saya sangat merindukan kegagalan ingin merasakan kegagalan, karena waktu itu saya merasa siap baik secara mental maupun fisik. Tetapi Tuhan juga tidak akan memberikan ujian semudah itu bagi orang-orang hebat yang mampu menemukan alasan untuk bangkit ketika melakukan kegagalan.

Tuhan itu maha tahu, dimana titik lemah kita kemudian memberikan ujian agar titik itu tidak menjadi lemah lagi tetapi konsekunsinya adalah harus menerima bersama ikhlas atas kegagalan, dan mencoba bangkin kembali. Tetapi ungkapan kadang hidup tidak semudah apa yang kita katakan memang benar adanya setelah sekarang saya merasakan hal yang dulu saya rindukan.

Novel Terbaru : Novel Dear Kegagalan

Tetapi saat ini kerinduan itu malah berubah menjadi ketakutan yang amat sangat karena saya merasa tidak tepat jika saya gagal saat ini karena fisik maupun mental ku tidak akan siap. Apa yang saya takuti memang benar terjadi, saya kira waktu ku gagal sudah habis dan berlalu tetapi ternyata itu baru saja dimulai, meski ini bukan kegagalan terbesar dalam hidup ku, karena saya sebelumnya merasakan kegagalan, yang jauh lebih besar hanya saja berbeda kontesnya.

Jauh sebelum hari ini saya merasa bahwa kegagalan adalah sesuatu yang perlu dicoba, tetapi waktu saya mengingnkannya saya tidak mendaptkannya, sebaliknya saat saya tidak menginginkan ia kembali datang, ibarat Gebetan yang datang menyatakan cinta pada saat persepsi pernikahan kita. tidak tepat dan tidak diinginkan lagi. Ada waktu dimana kita rasanya malas sekali melakukan sesuatu jangankan untuk mengulangi untuk melakukan pekerjaan lainnya saja sangat berat.

saya kira itu sindrom baru yang membuat badan tidak bisa berlajan meski tidak lumpuh, mata tidak ingin melihat meski mampu, mendengar tapi tidak merasakan. Rasanya tidak ada rasa setelah Kegagalan datang. Ungkapan motivasi mengenai kegagalan tidak lagi memilki dampak bagi tubuh itu seakan mati rasa, tak berdaya tidak ingin melakukan sesuatu yang sudah gagal.

Akhinya kita terjebak dalam kondisi tubuh tidak mau diperintah otak, pada akhirnya menjadi malas untuk melakukan segala hal, Rasanya saya baru sadar saat ini betapa beratnya ketika gagal, mungkin ini juga hukuman bagi diri ini karena telah sombong menantang Tuhan, atau mungkin ini cara Tuhan untuk membuatku mengubah ini bukan sebagai kelemahan.

Entahlah terkadang waktu untuk gagal dirasa tidak tepat, tetapi Kegagalan bukan sebuah pilihan, seperti kita memilih atas pertanyaan apakah benar atau salah, tetapi ini mengenai seni mempertahankan diri, bagi mereka yang memiliki pertahanan yang kokoh akan bangkit dan menjadikan pelajaran atas seluruh yang telah didapat setidaknya dapat mengevaluasi dimana kesalahan kita dan memperbaikinya dimasa mendatang.

Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kegagalan kecuali mereka yang merasakan hal sama bersama ku saat ini, Jika sebelum saya gagal tulisan kisah sukses “Thomas Alfa Edison” yang mengungkapnya bagaimana dia melakukan penemuan bersama ribuan kali gagal, menjadi energi tambah untuk memacu semangat, tetapi setelah kegagalan telah saya lalui.

Pada akhirnya sekarang hanya sebuah tulisan berisi kisah hidup saja tidak ada lagi rasa dimana tubuh ini berapi-api untuk mencapai tujuan. Hanya sebuah tulisan saja. Dear Kegagalan engkau telah merebut semuanya dari ku, kemana lagi saya harus mencari seluruh semangat yang dulu pernah ada, tubuhku tak berdaya, seluruh panca inderaku tidak mau lagi berkerja.

saya seperti Zombie yang tidak tahu apakah harus apa, dan ingin seperti apa bahkan untuk mengingatkan apa yang pernah dilakukan sudah malas, saat ini ingin menyerah dan mencoba hal lain meninggalkan seluruh itu memulai usaha baru. Tetapi disisi lain saya merasa untuk mengulang hal baru membutuhkan pengetahuan yang mungkin tidak sebentar.

Sementara usiaku makin hari makin menua, kesempatan untuk belajar lagi ilmu baru dan mencoba merintis baru menjadi pertimbangan apakah saya mampu melakukan hal itu bersama seluruh waktu. Hari demi hari berganti saya terus berada di kamar tidur ku, hanya berteman bersama Gedget berisi Games untuk menghabiskan waktu.

Ku ingin saat saya bangun bagi, kemudian saat saya melihat jendela rumahku hari telah kembali gelap, tidak ada yang saya lakukan, seluruh itu terus berganti menjadi bulan dan tanpa terasa hampir satu tahun saya melakukan hal sama tanpa pekerjaan apapun. Sementara jika saya harus bangkit waktu ku hanya tinggal dua bulan sebelum tahun depan.

Bahkan itu tidak mungkin lagi dilakukan karena bersama waktu yang hampir satu tahun saja saya masih gagal apalagi mempersiapkan semuanya untuk memulai lagi hanya dua bulan saja. Dear Kegagalan memang benar engaku bukan pilihan, saya harus mencoba menerima tetapi engkau telah merenggut semuanya dari ku, semangat ku, tujuan ku, rasa optimisku, hilang ketika engakau datang.

saya tidak pernah tahu kapan kau akan pergi dari ku, semenjak kegagalan itu saya merasa tidak berdanya tidak punya tenaga seluruh terasa sangat malas untuk dilakukan. Wahai senja jika kau bisa berbicara kepada ku mungkin diri ini sudah melewatkan kehadiran mu berhari-hari, bahkan berbulan-buan tanpa bertindak apapun.

Keinginan untuk mengulangi usaha itu memang ada, tetapi seluruh tidak seperti dulu saat saya memulai banyak dukungan, biaya, tenaga, dan semangat ku. Pekerjaan yang telah saya bangun selama 4 tahun berakhir dalam waktu hanya 4 menit saja. Setega itu engkau mencurangi ku. Apa engkau tidak melihat yang sedang berbaring disana diranjang tidur ku, menunggu tiap-tiap hari saat saya kembali tersenyum.

Keluarga kecil ku yang menggantungkan harapan masa depan pada pundakku, bahkan Istri ku pernah mengatakan kepada ku, “Hai Sayang saya tidak peduli seberapa kali engkau gagal, atau kita tidak bisa membeli Nasi meski hanya satu bungkus saja dalam sehari, bagi ku ada hal jauh lebih penting, yang terus saya doakan kepada Tuhan setian saat, mengenai senyum lepas diwajah mu”.

saya melihat keluarga kecilku sedih saat saya sedih, tetapi rasanya saya tidak mampu menjelaskan mengenai apa yang sedang saya rasa, seluruh itu terasa berdiri diatas semuanya. Tetapi sekali lagi saya rasanya tidak mampu untuk bangkit, memang seperti apa kata keluarga kecil. Bahkan orang tua yang saya cintai juga mengatakan hal sama.

Ibu kandung ku, mengatakan “Tidak ada yang lebih berarti dari seluruh yang ada di dunia ini kecuali bagi seorang ibu adalah kebahagiaan mu Anak Ku” kami rela menerima seluruh derita mu jika memang bisa kami terima, hanya satu yang ingin kami lihat lagi dari mu, senyum mu yang telah hilang lama, ketahuilah meski kau tidak berhasil kami akan tetap mendukung tiap-tiap keputusan yang akan saya lalui.

Kata-kata itu yang sering saya dengar dari orang-orang tercinta, mereka menginginkan senyum diwajahku yang pernah ada seperti dulu lagi, sementara saya juga mengharapkan hal sama melihat senyum mereka tetap ada. saya melihat mereka bersedih karena saya bersedih dan saya memutuskan untuk mencoba bangkit dan memulai hal yang telah gagal.

Tetapi saya tidak tahu caranya, bagaimana yang ku ingat hanya satu, mungkin bangkit dari kegagalan membutuhkan satu alasan, sekarang sudah cukup rasanya saya tidak ingin mereka sedih karena saya, bagiku tidak ada kegagalan terbesar selain membuat orang yang saya cintai bersedih. Satu alasan itu mungkin tidak akan sepenuhnya membuat ku menjadi seperti dulu lagi.

Tetapi setidaknya itu menjadi “Satu Alasan mengapa saya harus bangkit”, kegagalan tidak akan pernah pergi jika kita tidak memutuskan untuk mengusirnya, Disisa-sisa waktu ku yang hanya dua bulan saja dan sisa biaya serta sisa-sisa tenaga yang telah dicuri oleh sang pencuri ulung yaitu “Kegagalan” saya mencoba bangkit. Satu alasan itu berupa “Senyum ku adalah Senyum orang-orang yang menyayangi ku, Sedih ku juga kesedihan mereka.

Mereka merindukan saya seperti dulu yang selalu ceria tertawa, dan bercanda saat berkumpul. Hidup kita adalah milik mereka yang mencintai kita. Disisa-sianya semuanya ini saya mencoba berusaha merintis pekerjaan untuk tahun depan entah apakah itu berhasi atau tidak yang jelas setidaknya saya tidak menghabiskan waktu ini sia-sia saja, saya harus mencobanya lagi. Dear Kegagalan jika memang engkau betah berada di dekat ku, dan mencoba kembali merebut sisa-sisa semangat ku lagi ketahuilah saya akan tetap sama.

saya memiliki satu alasan yang bisa membuat ku tersenyum lagi, dan saya tidak ingin melakukan kegagalan lagi, kegagalan ku adalah kesedihan, kesedihan ku adalah kesedihan mereka “Orang Tersayang” Dear Kegagalan engaku boleh merenggut semuanya dari kehidupan ku tetapi jangan pernah rebut meski satu senyum saja di wajah orang yang saya sayangi karena jika memang hal itu terjadi saya tidak akan membiarkan itu seluruh terjadi.

Setidanya dari kediran mu dalam hidup ini saya akan lebih dewasa lagi, dan dapat mengevaluasi mana yang harus saya tingkatkan yang belum dicapai, dan mana yang tidak boleh lagi saya lakukan atas kelemahan usaha yang pernah saya lakukan. Engaku “Kegagalan” bukanlah teman sejati ku tetapi setidaknya kau dapat menjadi pendengar atas seluruh kelemahan yang saya miliki. saya ingin suatu saat nanti jika kau sudah pergi dari ku, dan singgah di tempat orang lain.

Maka setidaknya engkau dapat menyempaikan pesan kepada mereka bahwa ada seseorang lagi dulu yang pernah merasakan saya “Kegagalan” dan ia memiliki satu alasan yang dapat membuat ku bahwa dia bukan tempat abadi saya singgah, saya ingin kalian yang sedang berteman dan semangatnya telah saya curi dapat menjadi satu orang lagi.

saya “Kegagalan” mungkin lebih suka tidak memiliki teman dari pada harus banyak teman kehilang 50 % dari kehidupannya hanya gara-gara saya. Itu adalah ungkapan kegagalan entah apakah memang benar ditahun depat saya dapat berpisah bersama mu wahai kegagalan atau engaku senang tiasa bersama ku lagi saya tidak pernah tahu.

Setidaknya saya bisa membuktikan bahwa saya belum kalah disisa energi yang saya miliki akan kucoba perlahan bangkin sebisa mungkin saya tidak ingin lagi membuat orang tersayang merasakan kesedihan karena kehadiran mu, meski begitu saya masih saja tetap ragu apakah saya mampu atau tidak pergi dari bayang-bayang mu wahai “Kegagalan”.

Ini merupakan ungkapan kegagalan yang sedang saya rasakan sekarang seperti yang telah saya jelaskan tidak ada satu kata-kata yang bisa mengambarkan kegagalan kecuali mereka yang sedang merasakan kegagalan itu, akan kujadikan teman bagi perjuangan dan ia menjadi teman curhat saat saya mengatkaan Dear Kegagalan seluruh mengenai kelemahan ku terasa terlihat sembari memberikan pesan bahwa itu tidak boleh terjadi lagi.

Terima kasih teman-teman yang sudah membaca mungkin kalian diluar sana sedang merasakan hal sama bersama ku, kalian bisa juga bisa melakukan hal sama mencari satu alasan untuk bangkin dan membuktikan bahwa kita layak untuk tidak menyerah. Waktu ku hanya 2 bulan lagi saat artikel ini ditulis kemudian dua belun berikutnya adalah tahun depan dimana persaingan dari pekerjaan ku dimulai lagi, entah saya mampu membuktikan semuanya atau mungkin malah sebaliknya.

Jangan sampai tulisan ini hanya sebagai tulisan, ini adalah janjiku kepada orang yang saya cintai bahwa kegagalan tidak lebih besar dari rasa ku menyayangi mereka, I Love You Ibu dan Ayah ku, I Love You My Wife and The Boy. Ini adalah kisah ku yang sedang merasakan kegagalan atas pekerjaaan ku, yang bahkan nyaris tidak memiliki penghasilan, sementara saya punya anak dan istri juga sedang menempuh pendidikan yang semuanya membuthkan uang. Semoga kalian tidak seperti ku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *